Selasa, 24 September 2013

Coretan Bekas

          Semarang Kota Atlas dan Peta Kehidupan

Pertengahan bulan Juli 2005 Subandi memulai kehidupan baru di kota Atlas. Kota yang baginya megah dan istimewa waktu itu. Betapa tidak? Latar belakang Subandi hanya dari keluarga petani yang tinggal di kampung. Penampilan sederhana dan lugu, culun, bahkan cupu, mungkin menjadi ciri khasnya ketika pertama kali memulai kehidupannya di Semarang.
          Sebagai mahasiswa, Subandi tak mau kalah dengan teman-teman kuliahnya yang berpenampilan moderen dan gaul, sepertinya kehidupan mereka memang sudah lebih moderen sejak SMA atau mungkin sejak SMP. “Aku harus bisa menyesuaikan diri dengan mereka,” pikir Subandi. Penampilannya segera berubah. Sekarang dia memakai pakaian yang bermerek terkenal, meskipun KW. Kalung rantai kecil kini melilit di lehernya sebagai assesoris. Dia mengenakan kaos kerah bermotif blaster yang lagi trend waktu itu. Rambut yang semula hitam kumel, kini berubah menjadi pirang dengan gaya potong rambut sasak. Tidak hanya itu, Subandi juga punya pacar yang selalu bisa  dibonceng kemana-mana. Itu dia lakukan supaya  mendekati standar cowok gaul.
          Bukan hanya style saja yang berubah, pola hidup pun tak seperti anak lugu lagi. Subandi tak mau lagi tinggal satu rumah dengan pemilik kost. Bukan hanya rute kost – kampus saja yang dia kuasai. Dia menjelajah, dia sudah paham kawasan Simpang Lima, Tugu Muda, Jalan Pahlawan, Pantai Marina, dan kawasan-kawasan lain di kota Semarang.
          Kalau dulu pukul 21.00 sudah mulai mengantuk, sekarang jam-jam segitu adalah waktu untuk keluar kost untuk sekedar nongkrong di Kucingan menikmati sate keong dan tahu bakso kesukaannya bersama sang pacar. Terkadang juga kumpul-kumpul di Jalan Pahlawan hingga larut malam, menikmati indahnya Jalan Pandanaran di malam hari, tak lupa sejenak singgah di sekitaran Stadion Diponegoro untuk melepas lelah.
          Di sela-sela kesemrawutan itu, Subandi berpikir, “Seperti inikah kehidupan orang-orang perkotaan? Seperti inikah gaya hidup mahasiswa? Ataukah semua ini hanya cara seseorang mencari jati diri sebagai proses menuju dewasa?” Biarlah, biarkan semua itu menjadi pengalaman pribadi untuk Subandi. Semoga dia bisa memetik hikmah dari setiap hal yang dia jalani. Biarkan Subandi menjalani hidupnya sekarang dengan berbekal pengalaman semasa mudanya.


Boyo”