Pertengahan bulan Juli 2005 Subandi memulai kehidupan baru
di kota Atlas. Kota yang baginya megah dan istimewa waktu itu. Betapa tidak? Latar
belakang Subandi hanya dari keluarga petani yang tinggal di kampung. Penampilan
sederhana dan lugu, culun, bahkan cupu, mungkin menjadi ciri khasnya ketika
pertama kali memulai kehidupannya di Semarang.
Sebagai
mahasiswa, Subandi tak mau kalah dengan teman-teman kuliahnya yang
berpenampilan moderen dan gaul, sepertinya kehidupan mereka memang sudah lebih
moderen sejak SMA atau mungkin sejak SMP. “Aku harus bisa menyesuaikan diri
dengan mereka,” pikir Subandi. Penampilannya segera berubah. Sekarang dia memakai
pakaian yang bermerek terkenal, meskipun KW. Kalung rantai kecil kini melilit
di lehernya sebagai assesoris. Dia mengenakan kaos kerah bermotif blaster yang
lagi trend waktu itu. Rambut yang semula hitam kumel, kini berubah menjadi
pirang dengan gaya potong rambut sasak. Tidak hanya itu, Subandi juga punya
pacar yang selalu bisa dibonceng
kemana-mana. Itu dia lakukan supaya mendekati standar cowok gaul.
Bukan hanya
style saja yang berubah, pola hidup pun tak seperti anak lugu lagi. Subandi tak
mau lagi tinggal satu rumah dengan pemilik kost. Bukan hanya rute kost – kampus
saja yang dia kuasai. Dia menjelajah, dia sudah paham kawasan Simpang Lima,
Tugu Muda, Jalan Pahlawan, Pantai Marina, dan kawasan-kawasan lain di kota
Semarang.
Kalau dulu
pukul 21.00 sudah mulai mengantuk, sekarang jam-jam segitu adalah waktu untuk
keluar kost untuk sekedar nongkrong di Kucingan menikmati sate keong dan tahu
bakso kesukaannya bersama sang pacar. Terkadang juga kumpul-kumpul di Jalan
Pahlawan hingga larut malam, menikmati indahnya Jalan Pandanaran di malam hari,
tak lupa sejenak singgah di sekitaran Stadion Diponegoro untuk melepas lelah.
Di sela-sela kesemrawutan
itu, Subandi berpikir, “Seperti inikah kehidupan orang-orang perkotaan? Seperti
inikah gaya hidup mahasiswa? Ataukah semua ini hanya cara seseorang mencari
jati diri sebagai proses menuju dewasa?” Biarlah, biarkan semua itu menjadi
pengalaman pribadi untuk Subandi. Semoga dia bisa memetik hikmah dari setiap
hal yang dia jalani. Biarkan Subandi menjalani hidupnya sekarang dengan
berbekal pengalaman semasa mudanya.
Boyo”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar