Tokoh:
1.
Cokro
2. Taruna
3. Bayat
4. Dewi Sartika
5. Kakek tua
Cokro duduk di atas singgasana sambil
membanggakan kursinya, kemudin datang Bayat menentang kesombongan Cokro.
Cokro :
Hhhhhaaahahahaha
Akulah Cokro, penguasa negeri ini. Namaku
besar, luas membentang ke seluruh negeri. Hartaku melimpah. Suaraku lantang
terdengar ke penjuru dunia. Ini…(sambil membanggakan kursinya) kursi kebesaranku, singgasana kekusaanku.
Bayat : Tidak…!!
Jangan sombong kau Cokro. Itu bukan kursimu. Kau tak pantas duduk di
kursi itu.
Cokro : (Menatap tajam) kamu Bayat.. apa urusan
kamu? Ini kursiku! Apa kamu meninginkan
kursiku? kamu inginkan singgasana ini?
Jangan mimpi kamu Bayat.
Bayat : Ingat Cokro, aku tidak pernah bermimpi
mendapatkan kursi itu. aku tidak akan pernah merebut singgasana mulia pemberian
Dewi Sartika itu. kau tak layak duduk di situ Cokro. Dewi Sartika memberi kursi
itu untuk Ayahandaku, hanya Ayahandaku Taruna yang pantas duduk di kursi itu
Cokro. Cepat kau angkat kakimu dari sini! Menjauhlah dari kehidupan kami.
Cokro : (Berdiri mendekati Bayat)
Kau selalu datang membawa nama
Taruna. Kau bangga-banggakan ayahmu di
depanku. Kau jadikan ayahmu sebagai
tokoh idola. Tidakkah kau tahu aku ini orang
besar? Relasiku banyak, dari
kalangan bawah sampai kalangan atas. Jangan kau sebut
lagi nama Taruna!!!
(pergi meninggalkan panggung)
(Monolog; Bayat mengecam
Cokro)
Bayat : Sungguh
keterlaluan kau Cokro. Kau menyalahgunakan kepercayaan untuk mendampingi
ayahanda Taruna menjaga kursi ini. Ternyata selain gila harta, kau juga gila
kedudukan. Kau ingin rampas kedudukan mulia ini.
(Kemudian Dewi
Sartika muncul)
Dewi : Ada apa Bayat? Nampaknya kau sedang ada
masalah…
Bayat : Benar Dewi. Kita sedang dalam masalah besar.
Dewi : Apa maksudmu Bayat? Coba kau ceritakan
padaku!!
Bayat : Dewi, Cokro kembali berulah. Setelah
kemarin membual ke semua warga dengan mengaku-ngaku kursi ini adalah miliknya,
sekarang dia berusaha untuk benar-benar merebut kursi mulia ini. Dia pikir, dia
yang pantas menduduki kursi ini karena Dewi telah memberikan kursi ini untuk
dia.
Dewi : Sungguh
keterlaluan Cokro!!
Aku memberi kursi ini bukan untuk
dimiliki dia, tapi aku titipkan kursi ini untuk diberikan kepada Taruna. Tapi
dia salahgunakan kepercayaan dariku. Terimakasih Bayat. Aku akan buat
peritungan untuk Cokro.
Bayat : Lihat
Cokro, kebenaran akan segera menjawab!
(Taruna datang kemudian duduk di kursi. Bayat datang)
Bayat : Ayah…
Taruna : (Memandangi Bayat)
Bayat : Izinkan ananda berbicara, Ayah..
Taruna : Oh ya, ada apa Bayat?
Bayat : Sebenarnya Ayah ada masalah apa dengan
Cokro?
Taruna : Saya tidak ada masalah apa-apa dengan Cokro,
hubungan kami baik-baik saja
Bayat : Sudahlah Ayah, aku sudah tahu apa yang
sebenarnya terjadi. Cokro ingin menduduki kursi ini kan?
Taruna : Memang.. Sudah lama dia ingin menduduki ursi
ini. Tapi demi Tuhan, aku tidak akan pernah memberikan kursi ini sekalipun
diganti dengan separo hartanya. Aku sendiri sebenarnya tidak ingin mendapatkan
kursi ini, tapi ini adalah amanah, yang harus aku jaga dengan baik. Amanah dari
Dewi Sartika. Cokro hanya mendapat tugas untuk mendampingiku, menjaga agar
kursi ini tetap berdiri kokoh.
(Tiba-tiba Cokro
datang sambil marah-marah)
Cokro : Hay..!! Apa-apaan kalian ini? Itu kursiku.
Kursi pemberian Dewi Sartika untukku
Bayat : Tenang Cokro, pelan-pelan kalau bicara
Cokro : (Mendekati Bayat sambil menunjuk) kamu anak
kecil jangan ikut campur. Ini urusan orang tua. Urusan aku dengan Ayahmu.
Taruna. Sekarang kamu minggir.
(Mendekati Taruna) taruna, kamu tidak berhak
duduk di kursi ini. Ini pemberian Dewi Sartika
untukku. (kemudian mengambil kursi)
Taruna : Sabar Cokro, sabar..!!
Cokro : Sabar..sabar.. dari dulu aku selalu sabar
menghadapi kalian. Tapi kalian tidak pernah mengerti perasaanku, kalian tak
pernah tau yang aku inginkan.
Bayat : Sudah Cokro, kau tak punya etika. Kau orang
besar, namamu melambung tinggi, kau orang berpendidikan, tapi kau tak punya
moral. Orangtua kau tunjuk-tunjuk. Setiap kau dating selalu bikin ribut.
Cokro : (Menantang) Kesini kau bayat. Kalau
memang kau jentel cepat kesini.
(Tiba-tiba muncul Dewi Sartika. Sambil menangis)
Dewi : Cukup Cokro.!! Aku sudah
tahu akal bulusmu. Kau salah gunakan kepercayaan uang aku beri untukmu. Kursi
ini aku titipkan untuk kau sampaikan kepada Taruna. Kau hanya aku tugaskan
untuk ikut menjaga kursi ini supaya tetap berdiri kokoh. Bukan untuk kau miliki
Cokro. Sungguh keterlaluan kau Cokro!!
(Muncul kakek-kakek)
Kakek : Uwes..uwes… Ojo ribut terus!! Mikir to, mikir.. Awakmu wong gedean
kabeh. Ora pantes yen ribut rebutan kursi. Kursi koyo ngene wae nggo rebutan.. Aku
iki wes tuwo. Wes arep mati. Wes… Kursine mending tak gowo nggo sangu mati. Wes
ojo podo ribut!! (kakek pergi
membawa kursi)
Dewi : Lihat Cokro, sekarang kursiku hilang entah
kemana. Semua gara-gara kamu Cokro. Gara-gara kamu.
Cokro : Maafkan akau Dewi, ini semua memang salahku.
Tak seharusnya aku menduduki kursi mulia itu. Taruna, ampuni semua salahku.
Bayat, maafkan aku…
Dewi : Dengan enteng kau ucapkan kata maaf Cokro.
Kau telah menyakiti hati Taruna. Biadab kau Cokro!
Taruna :
Dewi, sudahlah. Aku ihlas dengan semua ini. Cokro, aku maafkan semua salahmu.
Cokro :
Terimakasih Taruna…(berpelukan)
Selesai