Jumat, 20 Januari 2012

Naskah "Singgasini"




Tokoh:  
1. Cokro
2. Taruna
3. Bayat
4. Dewi Sartika
5. Kakek tua

Cokro duduk di atas singgasana sambil membanggakan kursinya, kemudin datang Bayat menentang kesombongan Cokro.
Cokro  : Hhhhhaaahahahaha
 Akulah Cokro, penguasa negeri ini. Namaku besar, luas membentang ke seluruh negeri. Hartaku melimpah. Suaraku lantang terdengar ke penjuru dunia. Ini…(sambil membanggakan kursinya) kursi kebesaranku, singgasana kekusaanku.
Bayat    : Tidak…!!
                Jangan sombong kau Cokro. Itu bukan kursimu. Kau tak pantas duduk di kursi itu.
Cokro    : (Menatap tajam) kamu Bayat.. apa urusan kamu? Ini kursiku! Apa kamu meninginkan   
               kursiku? kamu inginkan singgasana ini? Jangan mimpi kamu Bayat.
Bayat   : Ingat Cokro, aku tidak pernah bermimpi mendapatkan kursi itu. aku tidak akan pernah merebut singgasana mulia pemberian Dewi Sartika itu. kau tak layak duduk di situ Cokro. Dewi Sartika memberi kursi itu untuk Ayahandaku, hanya Ayahandaku Taruna yang pantas duduk di kursi itu Cokro. Cepat kau angkat kakimu dari sini! Menjauhlah dari kehidupan kami.
Cokro    : (Berdiri mendekati Bayat)
          Kau selalu datang membawa nama Taruna. Kau bangga-banggakan ayahmu di 
          depanku. Kau jadikan ayahmu sebagai tokoh idola. Tidakkah kau tahu aku ini orang
          besar? Relasiku banyak, dari kalangan bawah sampai kalangan atas. Jangan kau sebut 
          lagi nama Taruna!!! (pergi meninggalkan panggung)


(Monolog; Bayat mengecam Cokro)
Bayat  :  Sungguh keterlaluan kau Cokro. Kau menyalahgunakan kepercayaan untuk mendampingi ayahanda Taruna menjaga kursi ini. Ternyata selain gila harta, kau juga gila kedudukan. Kau ingin rampas kedudukan mulia ini.
(Kemudian Dewi Sartika muncul)
Dewi    : Ada apa Bayat? Nampaknya kau sedang ada masalah…
Bayat   : Benar Dewi. Kita sedang dalam masalah besar.
Dewi    : Apa maksudmu Bayat? Coba kau ceritakan padaku!!
Bayat   : Dewi, Cokro kembali berulah. Setelah kemarin membual ke semua warga dengan mengaku-ngaku kursi ini adalah miliknya, sekarang dia berusaha untuk benar-benar merebut kursi mulia ini. Dia pikir, dia yang pantas menduduki kursi ini karena Dewi telah memberikan kursi ini untuk dia.
Dewi    : Sungguh keterlaluan Cokro!!
            Aku memberi kursi ini bukan untuk dimiliki dia, tapi aku titipkan kursi ini untuk diberikan kepada Taruna. Tapi dia salahgunakan kepercayaan dariku. Terimakasih Bayat. Aku akan buat peritungan untuk Cokro.
Bayat    : Lihat Cokro, kebenaran akan segera menjawab!


(Taruna datang kemudian duduk di kursi. Bayat datang)
Bayat    : Ayah…
Taruna  : (Memandangi Bayat)
Bayat    : Izinkan ananda berbicara, Ayah..
Taruna  : Oh ya, ada apa Bayat?
Bayat    : Sebenarnya Ayah ada masalah apa dengan Cokro?
Taruna  : Saya tidak ada masalah apa-apa dengan Cokro, hubungan kami baik-baik saja
Bayat    : Sudahlah Ayah, aku sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Cokro ingin menduduki kursi ini kan?
Taruna : Memang.. Sudah lama dia ingin menduduki ursi ini. Tapi demi Tuhan, aku tidak akan pernah memberikan kursi ini sekalipun diganti dengan separo hartanya. Aku sendiri sebenarnya tidak ingin mendapatkan kursi ini, tapi ini adalah amanah, yang harus aku jaga dengan baik. Amanah dari Dewi Sartika. Cokro hanya mendapat tugas untuk mendampingiku, menjaga agar kursi ini tetap berdiri kokoh.

(Tiba-tiba Cokro datang sambil marah-marah)
Cokro   : Hay..!! Apa-apaan kalian ini? Itu kursiku. Kursi pemberian Dewi Sartika untukku
Bayat    : Tenang Cokro, pelan-pelan kalau bicara
Cokro  : (Mendekati Bayat sambil menunjuk) kamu anak kecil jangan ikut campur. Ini urusan orang tua. Urusan aku dengan Ayahmu. Taruna. Sekarang kamu minggir.
  (Mendekati Taruna) taruna, kamu tidak berhak duduk di kursi ini. Ini pemberian Dewi  Sartika untukku. (kemudian mengambil kursi)
Taruna   : Sabar Cokro, sabar..!!
Cokro  : Sabar..sabar.. dari dulu aku selalu sabar menghadapi kalian. Tapi kalian tidak pernah mengerti perasaanku, kalian tak pernah tau yang aku inginkan.
Bayat   : Sudah Cokro, kau tak punya etika. Kau orang besar, namamu melambung tinggi, kau orang berpendidikan, tapi kau tak punya moral. Orangtua kau tunjuk-tunjuk. Setiap kau dating selalu bikin ribut.
Cokro   : (Menantang) Kesini kau bayat. Kalau memang kau jentel cepat kesini.


(Tiba-tiba muncul Dewi Sartika. Sambil menangis)
Dewi   : Cukup Cokro.!! Aku sudah tahu akal bulusmu. Kau salah gunakan kepercayaan uang aku beri untukmu. Kursi ini aku titipkan untuk kau sampaikan kepada Taruna. Kau hanya aku tugaskan untuk ikut menjaga kursi ini supaya tetap berdiri kokoh. Bukan untuk kau miliki Cokro. Sungguh keterlaluan kau Cokro!!

(Muncul kakek-kakek)
Kakek  : Uwes..uwes… Ojo ribut terus!! Mikir to, mikir.. Awakmu wong gedean kabeh. Ora pantes yen ribut rebutan kursi. Kursi koyo ngene wae nggo rebutan.. Aku iki wes tuwo. Wes arep mati. Wes… Kursine mending tak gowo nggo sangu mati. Wes ojo podo ribut!! (kakek pergi membawa kursi)
Dewi   : Lihat Cokro, sekarang kursiku hilang entah kemana. Semua gara-gara kamu Cokro. Gara-gara kamu.
Cokro  : Maafkan akau Dewi, ini semua memang salahku. Tak seharusnya aku menduduki kursi mulia itu. Taruna, ampuni semua salahku. Bayat, maafkan aku…
Dewi   : Dengan enteng kau ucapkan kata maaf Cokro. Kau telah menyakiti hati Taruna. Biadab kau Cokro!
Taruna  : Dewi, sudahlah. Aku ihlas dengan semua ini. Cokro, aku maafkan semua salahmu.
Cokro   : Terimakasih Taruna…(berpelukan)


Selesai

Kamis, 19 Januari 2012

Belajar Efektif

         Salah satu kewajiban seorang siswa adalah belajar. Baik belajar pengetahuan umum maupun belajar untuk mendalami pelajaran yang diterima di kelas. Seorang siswa akan mendapat ilmu yang melimpah apabila siswa tersebut benar-benar konsisten dengan niat utama ketika hendak masuk sekolah, yaitu mencari ilmu. Sekolah memberi banyak sekali ilmu kepada siswa. Pastinya ilmu itu bisa didapat dengan cara belajar. Tapi bagaimana jika seorang siswa mengalami masalah dalam belajar? Bagaimana cara mengatasi masalah-masalah tersebut? Berikut akan dibahas berbagai macam penyebab dan cara mengatasi masalah dalam belajar.
      Seandainya siswa ditanya “Apakah diantara kalian ada yang mengalami masalah dalam belajar?” Misalnya, “Saya kalau belajar suka mengantuk, Pak” atau mungkin ada yang bilang, “Pak, begitu saya belajar sebentar kepala langsung pusing, pening, berkunang-kunang” dan sebagainya. Kenyataannya, sebagian besar mengatakan mengantuk jika belajar.
         Saya disini bukannya hendak memberi tablet antingantuk, melainkan saya hendak mencari penyebab rasa kantuk ketika belajar. Diantara penyebab itu adalah:
a.Badan terlalu lelah karena di siang hari banyak bekerja
b.Terlalu banyak begadang sampai malam, sedangkan di siang harinya tidak tidur
c.Terlalu kenyang makan sebelum belajar
d.Cara belajar yang kurang baik; belajar sambil tiduran atau cahaya lampu kurang terang

1. Cara Belajar yang Baik
     Hal-hal yang perlu diperhatikan di dalam belajar
     1) Diri sendiri
         (a) Terlebih dahulu siswa harus merasa senang kepada guru dan mata pelajaran
         (b) Jaga badan supaya tetap sehat dan bugar, dengan senam pagi, makan yang teratur, 
         (c) Percaya bahwa kamu pasti mampu mengatasi pelajaran itu dengan ketekunan
         (d) Disiplin dengan peraturan yang sudah kamu buat sendiri.
     2)  Tempat Belajar
          Atur tempat belajar sebagai berikut:
          (a)Aturlah tempat belajar serapi mungkin
          (b)Hindari tempat yang berangin
          (c)Penerangan yang cukup
          (d)Tempat yang tenang, tidak gaduh, dan tak banyak orang lalu-lalang
     3)  Bahan/materi yang dipelajari
          (a)Tentukan pelajaran yang akan dipelajari, jangan bercampur baur
          (b)Sediakan alat-alat yang diperlukan atau yang berkaitan dengan materi tersebut
     4)  Waktu Belajar
          05.30-05.30 Bangun pagi, mandi, sembahyang, dan lain-lainnya
          05.30-06.30 Belajar pagi, mengulang selintas yang telah dipelajari di sore hari
          06.30-07.30 Sarapan, berpakaian, dan berangkat sekolah
          07.30-13.30 Gunakan betul-betul untuk menambah ilmu. Dengar baik-baik penjelasan guru.   
                             Sebaiknya, waktu istirahat digunakan untuk becanda dengan teman, bercerita, 
                             dan  sebagainya yangpenting keluar dari kelas
          13.30-14.30 Sembahyang, istirahat, nonton TV, dengerin radio, makan siang
          14.30-16.00 Tidur siang
          16.00-17.30 Sesudah mandi, belajarlah dan ulangi pelajaran tadi siang
          17.30-19.30 Gunakan untuk bantu ibu, sembahyang, mengaji, nonton TV
          19.30-21.30 Belajar malam, untuk mempelajari pelajaran besok
          21.30-22.00 Istirahat, makan malam, sembahyang
          22.00-05.00 Tidur.
  5)  Istirahat/rekreasi
       Pada hari Minggu, gunakan untuk istirahat, mengikuti ekskul, mencuci, membantu orangtua,
       main-main ke tempat teman, main ke tempat wisata, dan lain sebagainya. Pokoknya 
       istirahatkan pikiranmu.

2.  Saran
     Uraian tersebut akan sangat berarti jika kamu sendiri mau membuktikannya. Sebagai 
     seorang siswa,  hendaknya:
     a.Memiliki kemauan kuat untuk melaksanakannya
     b.Berdisiplin/menaati dan menepati rencana yang sudah ditentukan
     c.Jangan suka menganggur, kerjakan apapun yang berguna
     d.Gemar membaca buku yang baik
     e.Hiduplah serba teratur, bersih, dan disiplin.
Semoga uraian di atas bermanfaat untuk pembaca yang budiman.



Dikutip dari “Bimbingan dan Konseling” (Prof. Dr. Bimo Walgito: 2010)

Selasa, 17 Januari 2012

Bayang Senja

Negeri permai berkabut putih selembut sutera
Berawan tipis di atas bukit memukau mata
Sinar pagi pecah oleh padi yang merunduk
Seperti senyumku menatap jauh setajam tanduk

Disitu kuberlari menapak hidup mencari arti
Menjinakkan kawanan hewan liar di bukit terjal
Berbekal lilin menaklukkan ombak memecah akal
Terus berdiri kokoh menatap langit walau pahit

Aku api tertiup angin senja
Aku terus berlari menuju angkasa
Aku temui bayang mimpi
Disitu kuberhenti lalu berbakti


(Boy)

Ada Apa dengan Waktu?

          Kita semua pasti akrab dengan lagu yang berjudul “Demi Waktu”, bukan? Lagu bikinan Band Ungu ini sangat popular di kalangan remaja pada pertengahan tahun 2005. Namun demikian, disini tidak akan saya bahas tentang sepak terjang karier group Band Ungu, tetapi mengarah pada judul salah satu lagu karya Ungu tersebut. Coba kita lihat judul lagu di atas! “Demi Waktu” kita persempit pandangan kita pada kata “Waktu”. Oke?
           Ada apa dengan kata “waktu”? Bicara tentang waktu sama halnya dengan bicara “durasi, saat, masa”. Sepertinya “waktu” ini biasa, sepele, kecil, tetapi sungguh sangat luar biasa. Ada pepatah klasik mengatakan “Waktu Bagaikan Sebuah Pedang”. Apa maksudnya? Ibarat sebuah pedang, seseorang dapat melakukan sesuatu kebaikan dengan pedang itu. Seperti memotong kayu, menyembelih ternak, mengupas buah, dan sebagainya. Tetapi jika orang itu tidak dapat menggunakan dengan teknik yang benar, pedang itu akan melukai tangan pemiliknya tersebut bahkan disalahgunakan untuk kejahatan. Begitu halnya dengan waktu. Jika seseorang menggunakan waktu dengan baik, dia akan beruntung. Tetapi jika banyak waktu yang terbuang sia-sia, orang itu akan rugi sendiri.
          Sebagai ilustrasi, saya membuat sebuah perumpamaan untuk menggambarkan betapa berharganya waktu. Ada dua anak yang bernama Acong dan Aceng. Mereka berusia sama-sama 18 tahun. Hari, tanggal, bulan, tahun, dan jam kelahirannya sama persis. Bahkan Mbah Dukun yang menangani persalinannya pun sama juga. Setelah menginjak usia 18 tahun, mereka duduk di bangku sekolah yang sama pula.
           Dari sekian banyak kesamaan antara si Acong dan Aceng ini ternyata terdapat satu perbedaan yang sangat luar biasa. Acong adalah anak yang rajin dan pintar sehingga selalu menyandang predikat bintang kelas. Sedangkan si Aceng adalah anak yang agak kendor prestasinya, bisa naik kelas saja sudang untung. Lalu kira-kira apa yang menjadi penyebab perbedaan ini? Jawabannya hanya satu yaitu “waktu”. Bagaimana mungkin waktu bisa menyebabkan perbedaan antara Acong dan Aceng? Mari kita kupas!
         Untuk dapat menjadi juara kelas, pastinya si Acong harus rajin belajar bukan?. Diwaktu Acong rajin belajar, ternyata Aceng rajin bermain. Diwaktu Acong sibuk menghafal kosa kata bahasa inggris, Aceng sedang sibuk SMS-an. Diwaktu Acong konsentrasi menyimak penjelasan guru dalam kelas, Aceng sedang asyik ngobrol dengan teman sebangkunya. Diwaktu Acong lembur mengerjakan PR, si Aceng sedang nongrong di perempatan. Diwaktu Acong rajin berangkat ke sekolah, Aceng rajin membolos ke warnet atau main PS.
         Acong pandai memanfaatkan waktunya untuk kegiatan yang berguna dalam rangka meraih prestasi, tak hayal Acong menjadi juara kelas. Tidak seperti Aceng yang selalu menyibukkan waktunya untuk hal-hal yang sangat tidak penting itu.
          Mungkin ada yang menyangkal “Ah… itu mah udah bawaan orok. Acong ditakdirkan menjadi anak pandai dan Aceng menjadi anak bodoh.” Apakah sanggahan ini benar? Sepertinya memang masuk akal jika kita lihat dari takdir. Tetapi coba kita bandingkan lagi antara pak Dadang dan pak Diding dalam ilustrasi berikut.
          Pak Dadang dan pak Diding sama-sama memiliki ladang satu hektar. Ladang itu mereka tanami pohon karet yang sama-sama siap untuk disadap. Tetapi kembali terjadi perbedaan antara kedua petani ini. Kehidupan pak Dadang lebih dari cukup sedangkan nasib pak Diding tak jauh beda dengan si Aceng.. Mengapa demikian? Jawabannya sama persis dengan ilustrasi di atas, yaitu “waktu”. Mari kita simak! Diwaktu pak Dadang berangkat nyadap pagi-pagi, pak Diding masih enak-enakan tidur di rumah. Diwaktu pak Dadang rajin ke ladang untuk mengurus tanaman karetnya, pak Diding hanya sesekali menengok ladangnya jika lagi mood. Alhasil, keluarga pak Dadang hidup sejahtera, rumah mentereng, memiliki motor dua unit, bahkan bisa membeli mobil baru dari hasil kebun karetnya itu. Sedangkan pak Diding hidupnya boleh dibilang pas-pasan saja karena dia malas bekerja. Apakah ini bawaan orok??
          Begitu dahsyatnya waktu sehingga dapat menentukan kehidupan di masa mendatang. Untuk itu, janganlah sepelekan waktu. Hidup adalah pilihan kawan, mari kita pilih kehidupan kita yang lebih baik. Setelah membaca artikel ini kira-kira pembaca akan memilih menjadi Acong atau Aceng, pak Dadang atau pak Diding? Silakan tentukan pilihan Anda.

Senin, 16 Januari 2012

Puisi

Menanam pohon-pohon akasia


Aku tanam pohon-pohon akasia
Ketika mentari itu jatuh di menara-menara
Semburat wajahnya hingga ke sebelah kota
Hingga terasa di sudut-sudut kumuh
Aku tanam pohon-pohon akasia
Di tengah kecamuknya abad televisi dan media cetak
Mencari berita di kebun-kebun. Tak kutemukan kau
Tak kutemukan burung-burung perkutut
Aku tanam pohon-pohon akasia
Jika langit pun berubah warna hitam
Dibalut tebal asap-asap pabrik. Bagai terlukis di udara
Dan kuhirup bagai tuba
Aku tanam pohon-pohon akasia
Di depan rumah di pinggir kota
Merujuk kembali burung-burung suaranya
Bernyanyi hingga suaranya itu menjadi seperti rayuan Nusantara

Karya: Yaman