Kita semua pasti akrab dengan lagu yang berjudul “Demi Waktu”, bukan? Lagu bikinan Band Ungu ini sangat popular di kalangan remaja pada pertengahan tahun 2005. Namun demikian, disini tidak akan saya bahas tentang sepak terjang karier group Band Ungu, tetapi mengarah pada judul salah satu lagu karya Ungu tersebut. Coba kita lihat judul lagu di atas! “Demi Waktu” kita persempit pandangan kita pada kata “Waktu”. Oke?
Ada apa dengan kata “waktu”? Bicara tentang waktu sama halnya dengan bicara “durasi, saat, masa”. Sepertinya “waktu” ini biasa, sepele, kecil, tetapi sungguh sangat luar biasa. Ada pepatah klasik mengatakan “Waktu Bagaikan Sebuah Pedang”. Apa maksudnya? Ibarat sebuah pedang, seseorang dapat melakukan sesuatu kebaikan dengan pedang itu. Seperti memotong kayu, menyembelih ternak, mengupas buah, dan sebagainya. Tetapi jika orang itu tidak dapat menggunakan dengan teknik yang benar, pedang itu akan melukai tangan pemiliknya tersebut bahkan disalahgunakan untuk kejahatan. Begitu halnya dengan waktu. Jika seseorang menggunakan waktu dengan baik, dia akan beruntung. Tetapi jika banyak waktu yang terbuang sia-sia, orang itu akan rugi sendiri.
Sebagai ilustrasi, saya membuat sebuah perumpamaan untuk menggambarkan betapa berharganya waktu. Ada dua anak yang bernama Acong dan Aceng. Mereka berusia sama-sama 18 tahun. Hari, tanggal, bulan, tahun, dan jam kelahirannya sama persis. Bahkan Mbah Dukun yang menangani persalinannya pun sama juga. Setelah menginjak usia 18 tahun, mereka duduk di bangku sekolah yang sama pula.
Dari sekian banyak kesamaan antara si Acong dan Aceng ini ternyata terdapat satu perbedaan yang sangat luar biasa. Acong adalah anak yang rajin dan pintar sehingga selalu menyandang predikat bintang kelas. Sedangkan si Aceng adalah anak yang agak kendor prestasinya, bisa naik kelas saja sudang untung. Lalu kira-kira apa yang menjadi penyebab perbedaan ini? Jawabannya hanya satu yaitu “waktu”. Bagaimana mungkin waktu bisa menyebabkan perbedaan antara Acong dan Aceng? Mari kita kupas!
Untuk dapat menjadi juara kelas, pastinya si Acong harus rajin belajar bukan?. Diwaktu Acong rajin belajar, ternyata Aceng rajin bermain. Diwaktu Acong sibuk menghafal kosa kata bahasa inggris, Aceng sedang sibuk SMS-an. Diwaktu Acong konsentrasi menyimak penjelasan guru dalam kelas, Aceng sedang asyik ngobrol dengan teman sebangkunya. Diwaktu Acong lembur mengerjakan PR, si Aceng sedang nongrong di perempatan. Diwaktu Acong rajin berangkat ke sekolah, Aceng rajin membolos ke warnet atau main PS.
Acong pandai memanfaatkan waktunya untuk kegiatan yang berguna dalam rangka meraih prestasi, tak hayal Acong menjadi juara kelas. Tidak seperti Aceng yang selalu menyibukkan waktunya untuk hal-hal yang sangat tidak penting itu.
Mungkin ada yang menyangkal “Ah… itu mah udah bawaan orok. Acong ditakdirkan menjadi anak pandai dan Aceng menjadi anak bodoh.” Apakah sanggahan ini benar? Sepertinya memang masuk akal jika kita lihat dari takdir. Tetapi coba kita bandingkan lagi antara pak Dadang dan pak Diding dalam ilustrasi berikut.
Pak Dadang dan pak Diding sama-sama memiliki ladang satu hektar. Ladang itu mereka tanami pohon karet yang sama-sama siap untuk disadap. Tetapi kembali terjadi perbedaan antara kedua petani ini. Kehidupan pak Dadang lebih dari cukup sedangkan nasib pak Diding tak jauh beda dengan si Aceng.. Mengapa demikian? Jawabannya sama persis dengan ilustrasi di atas, yaitu “waktu”. Mari kita simak! Diwaktu pak Dadang berangkat nyadap pagi-pagi, pak Diding masih enak-enakan tidur di rumah. Diwaktu pak Dadang rajin ke ladang untuk mengurus tanaman karetnya, pak Diding hanya sesekali menengok ladangnya jika lagi mood. Alhasil, keluarga pak Dadang hidup sejahtera, rumah mentereng, memiliki motor dua unit, bahkan bisa membeli mobil baru dari hasil kebun karetnya itu. Sedangkan pak Diding hidupnya boleh dibilang pas-pasan saja karena dia malas bekerja. Apakah ini bawaan orok??
Begitu dahsyatnya waktu sehingga dapat menentukan kehidupan di masa mendatang. Untuk itu, janganlah sepelekan waktu. Hidup adalah pilihan kawan, mari kita pilih kehidupan kita yang lebih baik. Setelah membaca artikel ini kira-kira pembaca akan memilih menjadi Acong atau Aceng, pak Dadang atau pak Diding? Silakan tentukan pilihan Anda.
Ada apa dengan kata “waktu”? Bicara tentang waktu sama halnya dengan bicara “durasi, saat, masa”. Sepertinya “waktu” ini biasa, sepele, kecil, tetapi sungguh sangat luar biasa. Ada pepatah klasik mengatakan “Waktu Bagaikan Sebuah Pedang”. Apa maksudnya? Ibarat sebuah pedang, seseorang dapat melakukan sesuatu kebaikan dengan pedang itu. Seperti memotong kayu, menyembelih ternak, mengupas buah, dan sebagainya. Tetapi jika orang itu tidak dapat menggunakan dengan teknik yang benar, pedang itu akan melukai tangan pemiliknya tersebut bahkan disalahgunakan untuk kejahatan. Begitu halnya dengan waktu. Jika seseorang menggunakan waktu dengan baik, dia akan beruntung. Tetapi jika banyak waktu yang terbuang sia-sia, orang itu akan rugi sendiri.
Sebagai ilustrasi, saya membuat sebuah perumpamaan untuk menggambarkan betapa berharganya waktu. Ada dua anak yang bernama Acong dan Aceng. Mereka berusia sama-sama 18 tahun. Hari, tanggal, bulan, tahun, dan jam kelahirannya sama persis. Bahkan Mbah Dukun yang menangani persalinannya pun sama juga. Setelah menginjak usia 18 tahun, mereka duduk di bangku sekolah yang sama pula.
Dari sekian banyak kesamaan antara si Acong dan Aceng ini ternyata terdapat satu perbedaan yang sangat luar biasa. Acong adalah anak yang rajin dan pintar sehingga selalu menyandang predikat bintang kelas. Sedangkan si Aceng adalah anak yang agak kendor prestasinya, bisa naik kelas saja sudang untung. Lalu kira-kira apa yang menjadi penyebab perbedaan ini? Jawabannya hanya satu yaitu “waktu”. Bagaimana mungkin waktu bisa menyebabkan perbedaan antara Acong dan Aceng? Mari kita kupas!
Untuk dapat menjadi juara kelas, pastinya si Acong harus rajin belajar bukan?. Diwaktu Acong rajin belajar, ternyata Aceng rajin bermain. Diwaktu Acong sibuk menghafal kosa kata bahasa inggris, Aceng sedang sibuk SMS-an. Diwaktu Acong konsentrasi menyimak penjelasan guru dalam kelas, Aceng sedang asyik ngobrol dengan teman sebangkunya. Diwaktu Acong lembur mengerjakan PR, si Aceng sedang nongrong di perempatan. Diwaktu Acong rajin berangkat ke sekolah, Aceng rajin membolos ke warnet atau main PS.
Acong pandai memanfaatkan waktunya untuk kegiatan yang berguna dalam rangka meraih prestasi, tak hayal Acong menjadi juara kelas. Tidak seperti Aceng yang selalu menyibukkan waktunya untuk hal-hal yang sangat tidak penting itu.
Mungkin ada yang menyangkal “Ah… itu mah udah bawaan orok. Acong ditakdirkan menjadi anak pandai dan Aceng menjadi anak bodoh.” Apakah sanggahan ini benar? Sepertinya memang masuk akal jika kita lihat dari takdir. Tetapi coba kita bandingkan lagi antara pak Dadang dan pak Diding dalam ilustrasi berikut.
Pak Dadang dan pak Diding sama-sama memiliki ladang satu hektar. Ladang itu mereka tanami pohon karet yang sama-sama siap untuk disadap. Tetapi kembali terjadi perbedaan antara kedua petani ini. Kehidupan pak Dadang lebih dari cukup sedangkan nasib pak Diding tak jauh beda dengan si Aceng.. Mengapa demikian? Jawabannya sama persis dengan ilustrasi di atas, yaitu “waktu”. Mari kita simak! Diwaktu pak Dadang berangkat nyadap pagi-pagi, pak Diding masih enak-enakan tidur di rumah. Diwaktu pak Dadang rajin ke ladang untuk mengurus tanaman karetnya, pak Diding hanya sesekali menengok ladangnya jika lagi mood. Alhasil, keluarga pak Dadang hidup sejahtera, rumah mentereng, memiliki motor dua unit, bahkan bisa membeli mobil baru dari hasil kebun karetnya itu. Sedangkan pak Diding hidupnya boleh dibilang pas-pasan saja karena dia malas bekerja. Apakah ini bawaan orok??
Begitu dahsyatnya waktu sehingga dapat menentukan kehidupan di masa mendatang. Untuk itu, janganlah sepelekan waktu. Hidup adalah pilihan kawan, mari kita pilih kehidupan kita yang lebih baik. Setelah membaca artikel ini kira-kira pembaca akan memilih menjadi Acong atau Aceng, pak Dadang atau pak Diding? Silakan tentukan pilihan Anda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar